Benda Yang Kita Tiduri
The Thing that we sleep on
Ditulis oleh William
Ada benda di rumah yang mungkin mengenal tubuh kita lebih baik daripada benda-benda lain yang kita miliki, meskipun kita hampir tidak pernah memikirkannya. Ia tahu bagaimana kita tidur ketika sedang sehat dan bagaimana kita tidur ketika demam, tahu sisi mana yang selalu kita pilih meskipun kita berjanji pada diri sendiri untuk mengubah kebiasaan, tahu berapa kali kita terbangun pada malam-malam ketika pikiran tidak mau diam, dan mungkin, jika sebuah benda bisa menyimpan kenangan, ia akan memiliki catatan yang jauh lebih lengkap tentang hidup kita daripada yang sanggup kita ingat sendiri. Benda itu adalah kasur.
Kita menghabiskan kira-kira sepertiga hidup kita di atasnya, sebuah fakta yang terdengar terlalu besar untuk sesuatu yang begitu biasa. Kita tidak pernah mengatakan kepada orang lain bahwa kita menghabiskan sepertiga hidup di atas kasur, sebagaimana kita tidak pernah mengatakan bahwa selama beberapa ribu jam dalam setahun tubuh kita berada dalam keadaan paling tidak berdaya di sebuah benda yang jarang sekali kita periksa. Kita bisa menghabiskan waktu berjam-jam memilih telepon genggam, membaca perbandingan kamera, kapasitas baterai, kecepatan prosesor, atau sekadar melihat apakah warnanya cukup bagus untuk membuat kita merasa telah membeli sesuatu yang benar. Kita bisa melakukan hal yang sama ketika membeli mobil, bahkan mungkin sofa. Tetapi ketika membeli kasur, setelah memastikan ukurannya cocok dengan kamar dan permukaannya cukup nyaman untuk membuat kita ingin berbaring selama beberapa menit di toko, sebagian besar dari kita berhenti memikirkannya. Kasur dibawa pulang, diletakkan di atas ranjang, ditutup seprai, dan sejak hari itu ia hampir menghilang dari kesadaran kita.
Padahal kehidupan kita berlangsung di atasnya.
Setiap malam tubuh kita datang kembali dengan membawa sisa-sisa hari yang baru saja dilewati. Kita mungkin baru saja pulang dari kantor, naik kendaraan umum, berjalan di trotoar yang berdebu, duduk berjam-jam di ruangan berpendingin udara, makan malam, berkeringat, kemudian mandi sebelum akhirnya berbaring. Atau mungkin kita pulang terlalu lelah untuk mandi dan langsung menjatuhkan diri ke tempat tidur sambil berkata bahwa besok saja semuanya dipikirkan. Tubuh menghasilkan panas, mengeluarkan keringat, melepaskan sel-sel kulit, rambut dan minyak, sementara debu dari kamar dan serat dari pakaian perlahan berpindah ke tempat yang sama. Tidak ada yang aneh dari semua itu. Tubuh manusia memang bekerja seperti itu. Yang aneh adalah betapa sedikitnya kita memikirkan apa yang terjadi pada benda yang menerima semua itu, malam demi malam, selama bertahun-tahun.
Kita mencuci seprai. Kita mengganti sarung bantal. Kita mencuci selimut. Kita mungkin bahkan menjemur kasur ketika masih kecil karena ibu menyuruh kita melakukannya. Tetapi kasur dewasa sering kali menjalani kehidupan yang jauh lebih panjang tanpa pernah benar-benar disentuh oleh ritual kebersihan yang sama. Seprai menjadi semacam batas psikologis: selama kain yang berada di atas kasur bersih, kita merasa tempat tidur kita bersih. Seolah-olah apa yang berada beberapa sentimeter di bawahnya tidak lagi termasuk dalam wilayah tubuh kita. Kita tahu secara rasional bahwa itu tidak masuk akal, tetapi kebiasaan manusia memang sering bekerja bukan berdasarkan apa yang rasional, melainkan berdasarkan apa yang bisa dilihat.
Barangkali di situlah persoalan sebenarnya bermula. Kita tidak terlalu pandai memikirkan sesuatu yang tidak terlihat.
Noda kopi di sofa membuat kita terganggu karena ia memiliki bentuk dan warna. Debu yang menumpuk di atas meja membuat kita merasa rumah sedang kotor karena debu itu bisa ditunjuk dengan jari. Lantai yang lengket setelah seseorang menumpahkan minuman segera dianggap sebagai masalah. Tetapi sesuatu yang tidak terlihat cenderung memperoleh nasib berbeda. Kita bisa hidup bertahun-tahun tanpa memikirkan bagian dalam sebuah kasur, sama seperti kita bisa bertahun-tahun tidak memikirkan apa yang terjadi di dalam pipa air atau tangki penyimpanan di atas rumah selama air masih mengalir ketika keran dibuka. Selama sesuatu bekerja dan tidak menuntut perhatian, kita menganggapnya baik-baik saja.
Kasur adalah contoh yang sangat sempurna tentang cara manusia memperlakukan benda-benda yang merawatnya secara diam-diam. Ia tidak meminta kita mengingat keberadaannya. Ia tidak berbunyi ketika waktunya dibersihkan. Ia tidak mengirimkan notifikasi bahwa sudah terlalu lama tubuh kita tidur di atasnya. Ia hanya menerima. Setiap malam, ketika kita selesai menjalani segala macam peran yang harus kita mainkan sepanjang hari—sebagai pekerja, pasangan, orang tua, anak, teman, atasan, bawahan, atau sekadar seseorang yang berusaha terlihat baik-baik saja di hadapan orang lain—kita kembali kepadanya dan berhenti menjadi semua itu untuk beberapa jam.
Di atas kasur, kita tidak perlu terlihat baik.
Tidak ada orang yang melihat bagaimana wajah kita ketika tertidur. Tidak ada yang peduli apakah rambut kita berantakan, apakah pakaian kita kusut, atau apakah kita menghabiskan setengah malam berguling ke kanan dan kiri karena memikirkan percakapan yang terjadi pagi tadi. Kasur menerima kita dalam keadaan yang paling sederhana: tubuh yang lelah, tubuh yang sakit, tubuh yang berkeringat, tubuh yang sedang berduka, tubuh yang sedang jatuh cinta, atau tubuh yang sekadar ingin berhenti sebentar dari dunia. Mungkin karena itu kasur memiliki kedekatan yang aneh dengan kehidupan pribadi kita. Ia bukan sekadar tempat tidur, melainkan salah satu dari sedikit benda yang selalu berada di sana ketika kita menjadi diri kita sendiri tanpa penonton.
Sebuah sofa bisa menyaksikan keluarga berkumpul pada malam Minggu, anak-anak berebut remote televisi, seseorang tertidur ketika film belum selesai, atau tamu yang datang membawa cerita dari luar rumah. Tetapi sofa masih berada dalam wilayah sosial. Orang lain bisa duduk di sana. Orang lain bisa melihatnya. Kasur berbeda. Ia berada di wilayah yang lebih sunyi, wilayah yang biasanya hanya kita bagi dengan orang-orang tertentu dan, pada banyak malam, dengan pikiran kita sendiri.
Karena itu mungkin agak aneh bahwa benda yang begitu dekat dengan tubuh kita justru sering menjadi benda yang paling jarang kita rawat secara menyeluruh.
Kita bisa merasa bersalah karena belum membersihkan kamar mandi selama seminggu. Kita bisa merasa malu jika ada tamu melihat karpet yang penuh noda. Kita akan segera mengelap meja jika menemukan bekas gelas. Namun sebuah kasur yang telah digunakan selama bertahun-tahun dapat tetap berada di kamar tanpa pernah membuat kita merasa bahwa ada sesuatu yang harus dilakukan terhadapnya. Ia tertutup rapi oleh seprai. Dari luar tampak baik-baik saja. Dan bagi manusia, tampak baik-baik saja sering kali sudah cukup untuk disebut baik-baik saja.
Mungkin kita sebenarnya tidak takut pada kotoran. Kita hanya takut pada kotoran yang bisa kita lihat.
Dan mungkin itulah sebabnya kasur menjadi benda yang menarik untuk dipikirkan lebih jauh. Sebab jika kita mau memperhatikannya, kasur bukan hanya cerita tentang kebersihan. Ia adalah cerita tentang bagaimana kita memperlakukan benda, bagaimana kita membedakan sesuatu yang terlihat dari sesuatu yang tidak terlihat, bagaimana kita memilih merawat apa yang mudah kita ingat dan melupakan apa yang bekerja diam-diam, dan pada akhirnya, tentang sebuah kebiasaan manusia yang jauh lebih luas: kita sering baru merawat sesuatu ketika ia sudah cukup rusak untuk meminta perhatian.
Kasur, tentu saja, tidak pernah meminta perhatian.
Ia hanya menunggu kita pulang.
Setiap malam.
Ingin Tahu Estimasi Biaya Salon Kamar Mandi Anda?
Hitung estimasi biaya secara instan sesuai jumlah kloset, wastafel, dan kaca shower menggunakan Kalkulator Biaya Online kami:
Ditulis oleh William
Artikel ini disusun dan ditinjau oleh tim profesional Mana Cleaning untuk mengedukasi masyarakat tentang standar higienitas hunian, pencegahan alergi tungau, dan preservasi furnitur rumah.
Hitung Biaya Pembersihan Hydrovacuum Kasur & Sofa
Hitung biaya sedot tungau & alergen debu mikro untuk kasur springbed, sofa, dan karpet secara instan.
CERITA TERKAIT // BACA SELANJUTNYA
Semua Jurnal →Kerak Kamar Mandi di Surabaya Membandel? Jangan Asal Siram Asam HCL! Ini Bahayanya & Solusi Restorasinya
Kerak kuning dan kerak kapur kamar mandi di Surabaya sulit hilang? Ketahui bahaya cairan asam HCL yang merusak glasur keramik dan solusi salon kamar mandi profesional.
17 Mnt BacaMengapa Anak Sering Bersin dan Gatal Saat Bangun Tidur? Bahaya Tungau Kasur & Pencegahannya
Kesehatan tidur anak Anda adalah fondasi utama tumbuh kembang dan daya tahan tubuhnya. Menjaga kasur tetap steril bukan lagi sekadar soal estetika rumah, melainkan tindakan preventif medis demi masa depan si kecil.
15 Mnt Baca